Sunday, 8 April 2018

MODEL TIPE-X UNTUK PEMBELAJARAN MENGANALISIS TEKS EKSPOSISI SISWA KELAS XI SMA

MODEL TIPE-X 
UNTUK PEMBELAJARAN MENGANALISIS TEKS EKSPOSISI
 SISWA KELAS XI SMA

Oleh : Eka Listiyaningsih, S.Pd.

       Pembelajaran bahasa erat hubungannya dengan empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan. Keterampilan membaca menduduki posisi penting dalam kehidupan manusia. Perkembangan ilmu dan teknologi informasi yang sangat cepat menuntut manusia untuk melakukan kegiatan membaca. Kegiatan membaca dapat memberikan informasi yang terbaru dan yang dibutuhkan manusia. Membaca merupakan proses menuju tercapainya komunikasi dan perasaan antara penulis dan pembaca. Komunikasi itu terjadi karena terdapat kesamaan pengetahuan dan asumsi antara pembaca dan penulis. Membaca sebagai proses visual, merupakan proses menerjemahkan simbol tulisan ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berfikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, membaca kritis, dan pemahamaan kreatif (Rahim, 2005:2).
        Sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Rahim, dapat disimpulkan bahwa keterampilan membaca juga membutuhkan subketerampilan menganalisis isi bacaan. Hal ini dimasksudkan agar pembaca mudah memahami isi bacaan. Kegiatan menganalisis isi bacaan memfokuskan aktivitas pembaca pada pengolahan informasi dan tidak hanya terbatas pada proses pengenalan simbol tulis (Barnet dan Badeu, 2011:32). Dalam proses membaca seorang pembaca akan mengalami dua kegiatan yang penting. Kegiatan tersebut adalah (1) pengenalan simbol-simbol tulis dalam bentuk huruf, dan (2) kegiatan kognitif dalam bentuk pengolahan simbol-simbol tulisan menjadi sebuah makna yang sangat kompleks dan multitafsir (Facione, 2006:5).
       Saat melakukan kajian awal penelitian dan pengembagan ini, peneliti menemukan penelitian yang sejenis. Penelitian tersebut dilakukan oleh Setiawan (2016) dengan judul Pengaruh Penggunaan Strategi Katalis untuk Meningkatkan Kemampuan Menganalisis Isi Bacaan Siswa Kelas X MA Muhammadiyah 1 Malang. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa strategi katalis membawa pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan menganalisis isi bacaan siswa kelas X MA Muhammadiyah 1 Malang. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji hipotesis menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 0,05. Adapun hasil uji statistik menunjukkan bahwa thitung 2,059 ≥ ttabel 2,012.
         Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kegiatan membaca memiliki kedudukan penting. Akan tetapi dewasa ini, minat baca di kalangan pelajar bisa dikatakan menurun. Hal ini membawa keprihatinan tersendiri karena membaca adalah proses awal memperoleh pengetahuan. Malas membaca berakibat pada minimalnya pengetahuan yang diperoleh seseorang. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara untuk meningkatkan minat baca pada setiap generasi penerus bangsa, utamanya di kalangan siswa. Semakin rendah minat baca siswa, akan berakibat pula terhadap kemampuan menganalisis isi bacaan. Kondisi ini menuntut setiap pengajar melakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis suatu bacaan. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan menganalisis bacaan pada siswa adalah dengan cara menerapkan model tertentu dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut, keberadaan model TIPE-X diharapkan dapat menjadi salah satu model yang diharapkan bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menganalisis bacaan. Bacaan yang dimaksud dalam tulisan ini yaitu teks eksposisi.

HAKIKAT MODEL TIPE-X 
        Pada bagian ini, akan dipaparkan mengenai (1) landasan filosofis dan teoritis, (2) tujuan model TIPE-X, (3) karakteristik model TIPE-X, dan (4) kelebihan dan kelemahan model TIPE-X. Keempat bagian tersebut dipaparkan sebagai berikut.

Hakikat Model TIPE-X   
       Model TIPE-X merupakan akronim dari Tim Penelaah Teks Eksposisi. Model ini merupakan adaptasi dari model Problem Based Learning dan  Group Investigation. Problem Based Learning (PBL) merupakan metode pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumbersumber pembelajaran. PBL adalah proses berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge), sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. 
      Sementara itu, model group investigation adalah kelompok kecil untuk menuntun dan mendorong siswa dalam keterlibatan belajar. Metode ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Hasil akhir dari kelompok adalah sumbangan ide dari tiap anggota serta pembelajaran kelompok yang notabene lebih mengasah kemampuan intelektual siswa dibandingkan belajar secara individual.
        Model TIPE-X mengintegrasikan keterampilan membaca dan menulis. Menurut Nurchasanah (2015:8), membaca adalah proses intelektual dan emosional karena membaca dapat dikatakan sebagai proses pengolahan bacaan secara kritis dan kreatif dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman secara menyeluruh dan mendalam tentang teks yang dibaca. Membaca dapat dikatakan juga sebagai aktivitas membaca tampak pada kegiatan merespon dan merekonstruksi makna yang disampaikan pengarang kepada pembaca lewat bahasa tulis yang dibaca. Membaca bertujuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman dari karya tulis yang dibaca. Kegiatan membaca dapat diikuti dengan kegiatan memahami bacaan. 
       Membaca sebagai salah satu kegiatan belajar mengajar tidak dapat berdiri sendiri. Kegiatan membaca selalu berhubungan dengan kegiatan berbahasa yang lain, yaitu berbicara dan menulis. Dalam model TIPE-X ini keterampilan membaca dan menulis terintegrasi. Keterampilan membaca adalah modal utama bagi seseorang untuk menyampaikan isi bacaan dalam sebuah tulisan (keterampilan menulis). Menulis merupakan sebuah kesempatan yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan (Munandar, 2002:226). Menulis bukan hanya kegiatan yang terfokus sebagai alat komunikasi. Menulis adalah aktivitas menghubungkan pengetahuan dengan melewati proses berpikir untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menulis sebagai sebuah aktivitas merekam pemikiran dapat membuat seseorang membangun dan memperdalam pengetahuan dan konsep baru. Keterampilan menulis bersifat aktif-produktif merupakan wujud kemahiran berbahasa dan berpikir yang memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia, terutama sebagai alat perekam pemikiran dan menyampai pesan.

Tujuan Model TIPE-X  
        Adapun tujuan model TIPE-X untuk pembelajaran menganalisis teks eksposisi adalah (1) melatih siswa untuk bekerja secara kooperatif dalam memecahkan suatu masalah, (2) melatih siswa untuk menemukan struktur, isi, dan kebahasaan teks ekpsosisi secara sistematis dan analitik, (3) meningkatkan keterampilan berpikir kritis, keterampilan memecahkan masalah, percaya diri dan kerjasama, dan (4) mendorong munculnya berbagai keterampilan sosial dalam berpikir. 

Karakteristik Model TIPE-X  
        Model TIPE-X merupakan model yang menitikberatkan pada kerjasama tim untuk memecahkan sebuah permasalahan yang telah diberikan guru. Karakteristik model TIPE-X adalah (1) belajar dimulai dengan suatu permasalahan, (2) memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada siswa dalam mengalami secara langsung proses belajar mereka, (3) menggunakan kelompok kecil terdiri atas 4—5 orang, (3) siswa terlibat langsung sejak perencanaan sampai akhir pembelajaran, (4) mengutamakan keterlibatan penukaran pikiran para siswa, dan (5) menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja (performance). 

Kelebihan dan Kelemahan Model TIPE-X 
        Model TIPE-X lebih menekankan pada makna dari pada fakta, siswa mengukuhkan akan lebih percaya diri dalam menghadapi suatu masalah. Siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih dan meningkatkan kecerdasan, siswa
akan lebih pandai dalam lisan dan belajar untuk bekerja sama dalam kelompok, menumbuhkan sikap bermotivasi diri, hubungan guru dengan pelajar saling mengisi, dan meningkatkan hasil belajar siswa. Akan tetapi, model ini juga memiliki kelemahan yaitu siswa akan merasa malas untuk mencoba jika tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari dapat dipecahkan, membutuhkan cukup waktu untuk persiapan, dan tanpa pemahaman pada siswa mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka siswa tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Selain itu, tidak menutup kemungkinan seorang siswa tidak ikut bekerja karena ia merasa bahwa masih ada siswa lain yang akan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

SINTAKS MODEL TIPE-X 
Sintaks atau langkah model TIPE-X adalah sebagai berikut. 
1. Mengorientasi peserta didik pada masalah 
2. Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran 
3. Mengimplementasikan rencana pembelajaran 
4. Penyajian Hasil 
5. Evaluasi

KONTEKS PEMAKAIAN DAN SARANA PENDUKUNG  
       Model TIPE-X dapat diterapkan dalam pembelajaran yang menunutut kerjasama antarsiswa. Model ini dapat diaplikasikan pada keempat keterampilan berbahasa. Model ini menuntut keaktifan siswa. Guru hanya bertidak sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam model TIPE-X untuk menganalisis teks eksposisi guru memanfaatkan berbagai jenis teks dari berbagai sumber sebagai sumber belajar siswa. Melalui kerjasama dalam tim, siswa diminta untuk menelaah struktur, isi, dan kebahasaan pada teks tersebut. 

CONTOH APLIKASI MODEL AKSI QUANTUM 
TIPE-X  untuk menganalisis Teks Eksposisi 
Kompetensi Dasar        
3.3 Menganalisis struktur, isi (permasalahan,                                                                                        argumentasi, pengetahuan, dan rekomendasi),kebahasaan  teks eksposisi yang didengar dan atau dibaca.

Indikator 
1. Mampu menelaah struktur isi (pernyataan pendapat, argumen, penegasan ulang) teks eksposisi secara rinci dan tepat.
2. Mampu menelaah ciri bahasa bahasa (informatif, kalimat fakta, pronomina, konjungsi, sudut pandang) teks eksposisi secara rinci dan tepat. 
3. Mampu menemukan tujuan penulisan teks eksposisi.

Model
Adaptasi dari model Problem Based Learning dan Group Investigation 
1. Selama proses pembelajaran siswa terlibat aktif dan guru hanya bertindak sebagai pendamping yang membantu siswa apabila mengalami kesulitan 
2. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara berkelompok 
3. Siswa mendemonstrasikan hasil kerja kelompok

Langkah-langkah model TIPE-X 
1. Mengorientasi peserta didik pada masalah 
a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
b. Guru membangun apresepsi terkait pembelajaran menganalisis teks eksposisi.
c. Guru memberikan motivasi kepada siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan menganalisis teks eksposisi.

2. Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran 
a. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas 4-5 orang. 
b. Guru menyampaikan tugas yang harus dikerjakan siswa.

3. Mengimplementasikan rencana pembelajaran.
a. Guru mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi terkait struktur, isi, dan kaidah kebahasaan teks eksposisi.
b. Guru mengajak siswa berlatih secara berkelompok untuk menganalisis teks eksposisi.

4. Penyajian Hasil 
Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok dalam menganalisis teks eksposisi 

5. Evaluasi
a.  Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran menganalisis teks eksposisi yang mereka lakukan.
b. Siswa menyampaikan keesulitan-kesulitan yang mereka alami selama pembelajaran.
c. Guru memberikan umpan balik terhadap hasil pembelajaran.

PENUTUP  
        Model pembelajaran TIPE-X merupakan model pembelajaran yang diadaptasi dari model problem based learning dan group investigation. Model TIPE-X merupakan akronim dari Tim Penelaah Teks Eksposisi. Sesuai dengan namanya, maka model TIPE-X menititberatkan kerja secara berkelompok untuk menganalisis teks eksposisi. Model ini merupakan model pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Dalam model TIPE-X terdapat lima tahapan, yaitu (1) mengorientasi peserta didik pada masalah,(2) mengorganisasikan kegiatan pembelajaran, (3) mengimplementasikan rencana pembelajaran,(4) penyajian hasil, dan (5) evaluasi. Model TIPE-X diharapkan mampu menjadi solusi terhadap kesulitan siswa dalam menganalisis teks eksposisi.

Thursday, 29 March 2018

LANDASAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA


LANDASAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA
Oleh : Reza Fahlevi, S.Pd.

Manusia adalah makhluk hidup yang diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan kelebihan dari mahluk lainnya. Kelebihan-kelebihan itu dapat berupa bahasa yang menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya yang akhirnya membentuk kesatuan sosial yang menghasilkan komunitas, organisasi, aliran bahkan budaya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya. Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh kita sebagai manusia, tentunya harus ada sesuatu yang mengarahkan dan membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan.
Mengingat begitu besar pengaruh potensi yang dimiliki manusia, maka pendidikan adalah salah satu cara yang harus ditempuh oleh manusia untuk mengembangkan potensi tersebut. Di lain pihak, manusia memiliki kemampuan dan keterampilan yang berbeda-beda dengan manusia yang lain. Sedangkan pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang sesuai prosedur pendidikan itu sendiri guna pengembangan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki manusia dalam landasan pendidikannya.
Landasan  Pendidikan diperlukan agar pendidikan yang sedang berlangsung mempunyai pondasi atau pijakan yang kuat. Menurut sifat wujudnya, landasan dapat dibedakan menjadi : (1) landasan yang bersifat material, dan (2) landasan yang bersifat konseptual. Contoh landasan yang bersifat material antara lain berupa landasan pacu pesawat terbang dan fundasi bangunan gedung. Adapun contoh landasan yang bersifat konseptual antara lain berupa dasar  Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila dan UUD RI Tahun 1945; landasan pendidikan, dsb. Landasan yang bersifat konseptual identik dengan asumsi, yaitu suatu gagasan, kepercayaan, prinsip, pendapat atau pernyataan yang sudah dianggap benar, yang dijadikan titik tolak dalam rangka berpikir (melakukan suatu studi) dan/atau dalam rangka bertindak. (melakukan suatu praktek). Untuk di Indonesia diperlukan landasan pendidikan berupa landasan hukum, landasan filsafat, landasan sejarah, landasan sosial, landasan budaya, landasan psikologi,dan landasan ekonomi. Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis selalu bertolak dari landasan-landasan tersebut karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu.
Pendidikan dipercaya dapat membangun kecerdasan sekaligus kepribadian anak manusia menjadi lebih baik. Namun, apa jadinya jika pendidikan hanya mementingkan  intelektual semata tanpa membangun karakter peserta didiknya. Hasilnya adalah kerusakan moral dan pelanggaran nilai-nilai pada akhirnya, hasil pendidikan ini hanya akan menjadikan manusia seperti robot, berakal tapi tidak berkepribadian ( jiwa kosong ).
            Untuk itulah, urgensi pendidikan karakter kiranya adalah jawaban bagi kondisi pendidikan seperti ini. Dengan adanya pendidikan karakter semenjak usia dini diharapkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan yang akhir-akhir ini sering menjadi keprihatinan bersama dapat diatasi.
            Adapun yang menjadi fokus pembahasan Landasan Sosiologi Pendidikan adalah pada pengertian landasan sosiologi, latar belakang histories perkembangannya, landasan sosiologi pendidikan,  ruang lingkup  dan fungsi kajian sosiologi pendidikan, dan kajian masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologi sistem pendidikan nasional.

PEMBAHASAN
Pengertian Sosiologis Pendidikan
            Sosiologi lahir pada abad ke-19 di Eropa, karena pergeseran pandangan tentang masyarakat. Sosiologi sebagai ilmu otonom dapat lahir karena terlepas dari pengaruh filsafat. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte (1798 – 1857). Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok – kelompok dan struktur sosialnya. Sosiologi mempunyai ciri – ciri :
1.      Empiris, adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu. Sebab ia bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi di lapangan.
2.      Teoritis, adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi salah satu bentuk budaya yang bisa disimpan dalam waktu lama dan dapat diwariskan kepada generasi muda.
3.      Komulatif, sebagai akibat dari penciptaan terus – menerus sebagai konsekuensi dari terjadinya perubahan di masyarakat, yang membuat teori – teori itu akan berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik.
4.      Nonetis, karena teori ini menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu – individu di dalamnya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk.
Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya: (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme, (3) paham integralistik. Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya masing-masing, asalkan tidak mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme menimbulkan cara pandang lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat.
            Dalam masyarakat seperti ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu dengan yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat selalu menang dalam bersaing dengan yang kuat sajalah yang dapat eksis. Berhadapan dengan paham di atas adalah paham kolektivisme yang memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya. dalam masyarakat yang menganut paham integralistik; masing-masing anggota masyarakat saling berhubungan erat satu sama lain secara organis merupakan masyarakat.
Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia orang perorang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.
Sifat sebagai makhluk sosial sudah dimiliki sejak bayi, dan tampaknya merupakan potensi yang dibawa sejak lahir. Bahwa manusia merupakan makhluk sosial karena beberapa faktor berikut: a) Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya, b) Sifat adaptability dan intelegensi. Dengan demikian, manusia sebagai makhluk sosial, menjadikan sosiologi sebagai landasan bagi proses dan pelaksanaan pendidikan, karena memang karakteristik dasar manusia sebagai makhluk sosial akan berkembang dengan baik dan menghasilkan kebudayaan-kebudayaan yang bernilai serta peradaban tinggi melalui pendidikan.
Dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang, yaitu:
1.      Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari: a. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan b. Hubungansistem pendidikan dan proses control social dan system kekuasaan. c. Fungsi system pendidikan dala memelihara dan mendorong proses social dan perubahan kebudayaan d. Hubungan pendidikan dengan kelas social atau system status e. Fungsionalisme system pendidika formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2.      Hubungan kemanusian di sekolah yang meliputi: a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah b. Pola interaksi social atau sruktur masyarakat sekolah.
3.      Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari: a. Peranan social guru b. Sifat kepribadian guru c. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa d. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak
4.      Sekolah dalam komunitas yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok social lain didalam komunitasnya, yang meliputi: a. Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah b. Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada system social komunitas kaum tidak terpelajar c. Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya d. Factor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.
Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagai saran untuk memahami system pendidikan dalam kaitannya dengan keseluruhan hidup masyarakat.
Kajian sosiologi tentang pedidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah, terutama apabila di tinjau dari sosiologi maka pendidikan keluarga adalah sangat penting karena keluarga merupakan lembaga social yang pertamabagi setiap manusia.

Latar belakang histories perkembangan sosiologi pendidikan
Ketika diangkat menjadi Presiden American Sosiological Association pada tahun 1883, Lester Frank Ward, yang berpandangan demokratis, menyampaikan pidato pengukuhan dengan menekankan bahwa sumber utama perbedaan kelas sosial dalam masyarakat Amerika adalah perbedaan dalam memiliki kesempatan, khususnya kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Orang berpendidikan lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk maju dan memiliki kehidupan yang lebih bermutu. Pendidikan dipandang sebagai faktor pembeda antara kelas-kelas sosial yang cukup merisaukan.
Untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan tersebut ia mendesak pemerintahnya agar menyelenggarakan wajib belajar. Usulan itu dikabulkan, dan wajib belajar di USA berlangsung 11 tahun, sampai tamat Senior High School (Rochman Natawidjaja, et. al., 2007: 78). Buah pikiran Ward dijadikan landasan untuk lahirnya Educational Sociology sebagai cabang ilmu yang baru dalam sosiologi pada awal abad ke-20. Ia sering dijuluki sebagai “Bapak Sosiologi Pendidikan”(Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 79).
Fokus kajian Educational Sociology adalah penggunaan pendidikan pendidikan sebagai alat untuk memecahkan permasalahan social dan sekaligus memberikan rekomendasi untuk mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri. Kelahiran cabang ilmu baru ini mendapat sambutan luas dikalangan universitas di USA. Hal itu terbukti dari adanya 14 universitas yang menyelenggarakan perkuliahan Educational Sociology, pada tahun 1914. Selanjutnya, pada tahun 1923 dibentuk organisasi professional bernama National Society for the Study of Educational Sociology dan menerbitkan Journal of educational Sociology. Pada tahun 1948, organisasi progesional yang mandiri itu bergabung ke dalam seksi pendidikan dari American Sociological Society. Pada tahun 1928 Robert Angel mengeritik Educational Sociology dan memperkenalkan nama baru yaitu Sociology of Education dengan focus perhatian pada penelitian dan publikasi hasilnya, sehingga Sociology of Education bisa menjadi sumber data dan informasi ilmiah, serta studi akademis yang bertujuan mengembangkan teori dan ilmu sendiri.
Dengan dukungan dana penelitian yang memadai, berhembuslah angin segar dan menarik para sosiolog untuk melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Maka diubahlah nama Educational Sociology menjadi Sociology of Education dan Journal of Educational Sociology menjadi Journal of the Sociology of Education (1963). Serta seksi Educational Sociology dalam American Sociological Society pun berubah menjadi seksi Sociology of Education yang berlaku sampai sekarang. Penelitian dan publikasi hasilnya menandai kehidupan Sociology of Education sejak pasca Perang Dunia II. Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa karena pergeseran pandangan tentang masyarakat sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kokoh. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte (1798-1857) pada tahun 1839 (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 96). Di Prancis, pelopor sosiologi pendidikan yang terkemuka adalah Durkheim (1858-1917), merupakan Guru Besar Sosiologi dan Pendidikan pada Universitas Sorbonne.
Di Jerman, Max Weber (1864-1920) menyoroti keadaan dan penyelenggaraan pendidikan pada masyarakat dengan latar belakang sosial budaya serta tingkat kemajuan berbeda. Sedang di Inggris, perhatian sosiologi pada pendidikan pada awalnya kurang berkembang karena pelopor sosiologi-nya, yaitu Herbert Spencer (1820-1903) justru merupakan Darwinisme Sosial. Namun belakangan, di Inggris muncul aliran sosiologi yang memfokuskan perhatiannya akan analisis pendidikan pada level mikro, yaitu mengenai interaksi social yang terjadi dalam ruang belajar. Berstein, misalnya, berusaha dengan jalan menyajikan lukisan tentang kenyataan dan permasalahan yang terdapat dalam sistem persekolahan dengan tujuan agar para pengambil keputusan menentukan langkah-langkah perbaikan yang tepat. Pendekatan Berstein ini oleh Karabel dijuluki sebagai atheoretical, pragmatic, descriptive, and policy focused (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 80).
Di Indonesia, perhatian akan peran pendidikan dalam pengembangan masyarakat, dimulai sekitar tahun 1900, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Para pendukung politis etis di Negeri Belanda saat itu melihat adanya keterpurukan kehidupan orang Indonesia. Mereka mendesak agar pemerintah jajahan melakukan politik balas budi untuk memerangi ketidakadilan melalui edukasi, irigasi, dan emigrasi. Meskipun pada mulanya program pendidkan itu amat elitis, lama kelamaan meluas dan meningkat ke arah yang makin populis sampai penyelenggaraan wajib belajar dewasa ini. Pelopor pendidikan pada saat itu antara lain: Van Deventer, R.A.Kartini, dan R.Dewi Sartika.

Landasan Sosiologi Pendidikan
Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyrakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma social yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya, yaitu: (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme, (3) paham integralistik. Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya, asalkan tidak mengganggu keamanan orang lain.  Dampak individualisme menimbulkan cara pandang yang lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat.
Dalam masyarakat seperti ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri,  antara anggota masyarakat satu dengan yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat.  Paham kolektivisme memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya. Sedangkan paham integralistik dilandasi pemahaman bahwa masing-masing anggota masyarakat saling berhubungan erat satu sama lain secara organis merupakan masyarakat. Masyarakat integralistik menempatkan manusia tidak secara individualis melainkan dalam konteks strukturnya manusia adalah pribadi dan juga merupakan relasi. Kepentingan masyarakat secara keseluruhan diutamakan tanpa merugikan kepentingan pribadi.
Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia secara orang per orang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.

Ruang Lingkup dan Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan
Para ahli Sosiologi dan ahli Pendidikan sepakat bahwa, sesuai dengan namanya, Sosiologi Pendidikan atau Sociology of Education (juga Educational Sociology) adalah cabang ilmu Sosiologi, yang pengkajiannya diperlukan oleh professional dibidang pendidikan (calon guru, para guru, dan pemikir pendidikan) dan para mahasisiwa serta professional sosiologi.
Mengenai ruang lingkup Sosiologi Pendidikan, Brookover mengemukakan adanya empat pokok bahasan berikut:
1.      Hubungan sistem pendidikan dengan sistem social lain
2.      Hubungan sekolah dengan komunitas sekitar,
3.      Hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan
4.       Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik (Rochman Natawidjaja, et. Al. 2007: 81).
Sosiologi Pendidikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi mengenai bagaimana harapan dan tuntutan masyarakat mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana sebaiknya pendidikan itu berlangsung menurut kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional maupun lokal.
Sosiologi Pendidikan secara operasional dapat defenisi sebagai cabang sosiologi yang memusatkan perhatian pada mempelajari hubungan antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, antara unit pendidikan dengan komunitas sekitar, interaksi social antara orang-orang dalam satu unit pendidikan, dan dampak pendidikan pada kehidupan peserta didik  (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 82).
Sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, Sosiologi Pendidikan dituntut melakukan tiga fungsi pokok, yaitu :
1.      Fungsi eksplanasi, yaitu menjelaskan atau memberikan pemahaman tentang fenomena yang termasuk ke dalam ruang lingkup pembahasannya. Untuk diperlukan konsep-konsep, proposisi-proposisi mulai dari yang bercorak generalisasi empirik sampai dalil dan hukum-hukum yang mantap, data dan informasi mengenai hasil penelitian lapangan yang actual, baik dari lingkungan sendiri maupun dari lingkungan lain, serta informasi tentang masalah dan tantangan yang dihadapi. Dengan informasi yang lengkap dan akurat, komunikan akan memperoleh pemahaman dan wawasan yang baik dan akan dapat menafsirkan fenomena – fenomena yang dihadapi secara akurat. Penjelasan-penjelasan itu bisa disampaikan melalui berbagai media komunikasi.
2.      Fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi dan permasalahan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang. Sejalan dengan  itu, tuntutan masyarakat akan berubah dan berkembang akibat bekerjanya faktor-faktor internal dan eksternal yang masuk ke dalam masyarakat melalui berbagai media komunikasi. Fungsi prediksi ini amat diperlukan dalam perencanaan pengembangan pendidikan guna mengantisipasi kondisi dan tantangan baru.
3.      Fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat seperti masalah lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan pendidikan sendiri.
Jadi, secara umum Sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena siosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan pranata kehidupan lain.
Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Landasan sosiologis mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa kita harus memusatkan perhatian kita pada pola hubungan antara pribadi dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.
Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia orang perorang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.
Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka memiliki hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun dalam arti sempit. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak misalnya masyarakat bangsa, sedang dalam arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku. Masyarakat  sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama, antara lain:
1.      Ada interaksi antara warga-warganya
2.      Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan khas
3.      Ada rasa identitas kuat yang mengikat para warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat- istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 100).
Masyarakat Indonesia mempnyai perjalanan sejarah yang panjang. Dari dulu hingga kini, ciri yang menonjol dari masyarakat Indonesia adalah sebagai masyarakat majemuk yang tersebar di ribuan pulau di nusantara. Melalui perjalanan panjang, masyarakat yang bhineka tersebut akhirnya mencapai satu kesatuan politik untuk mendirikan satu negara serta berusaha mewujudkan satu masyarakat Indonesia sebagaiu masyarakat yang bhinneka tunggal ika. Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih ditandai oleh dua ciri yang unik, yakni :
1.      Secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan social atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan kedaerahan.
2.      Secara vertical ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan lapisan bawah.

PENUTUP
Dasar sosiologis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan, dan karakteristik masyarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisa ilmiah tentang proses social di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang: hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain, hubungan sekolah dengan komunitas sekitar, hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan dan pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik
Landasan sosiologis mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masing-masing anggota masyarakat.
Sosiologi pendidikan dituntut untuk melakukan tiga fungsi, yaitu: (1) fungsi eksplanasi, (2) fungsi prediksi, (3) fungsi utilisasi. Secara umum, sosiologi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya tersebut melalui pengkajian fenomena-fenomena sosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat.
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan kompleks. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan ke-Bhineka tunggal ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Ardhana, Wayan.  1986.  Dasar-dasar Kependidikan.  FIP IKIP. Malang.
Abdal. 2007. Pembinaan Guru Dalam Penyusunan Karya Tulis Sebagai Pengembangan Dan Peningkatan Kompetensi Profesi Pendidik. (Online), diakses 6 Oktober 2016.
Anwar sulkhudin, 2013. Staffing dalam lembaga pendidikan islam, Fakultas Agama Islam, prodi pendidikan bahasa arab, Univ yudharta pasuruan.(Online) diakses, 8 Oktober 2016
Bachri, Syamsul. 2002. Sosiologi Pendidikan Dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Dantes, Nyoman. 2014. Landasan Pendidikan: Tinjauan dari Makropedagogis. Yokyakarta : Graha Ilmu
Dimyati, Muhammad. 1996. Landasan Pendidikan: Analisis Keilmuan, Teorisasi, dan Praktek Pendidikan. Malang : IKIP Malang
Halim, A. & Supriyono. 2011. Landasan-Landasan Pendidikan dan Pembelajaran (Landasan Filosofis Pendidikan). Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.Pengetahuan. Makalah. Program Pascasarjana UNM. Makassar
Robandi, Bambang. 2005. Handout: Mata Kuliah Landasan Pendidikan. Bandung : UPI
Suriansyah, Ahmad. 2011. Landasan Pendidikan. Banjarmasin: Comdes
Tirtarahardja, Umar  dan  S.L. La Sulo.  2005. Pengantar Pendidikan. Rhineka Cipta Jakarta.

Inayah, R., Martono, T., & Sawiji, H. Pengaruh Kompetensi Guru, Motivasi Belajar Siswa, dan Fasilitas Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Lasem Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2011/2012. (Online), diakses 8 Oktober 2016.
Juarsa, Osa. 2014. Peningkatan Prestasi Belajar Sosiologi Siswa SMU Negeri 4 Kota Bengkulu Melalui Pembelajaran Kreatif dan Produktif. (Online) diakses, 8 Oktober 2016.
Novara, Sura Arni Dkk. 2011. Landasan – Landasan Pendidikan. (Online), diakses  10 Oktober 2016
Natawidjaya, R., Sukmadinata, N.S.,  Ibrahim. Djohar, A,.  2007.    Ilmu  Rujukan Filsafat, Teori, dan Praksis. Universitas Pendidikan Indonesia.
Putrayasa, Ida Bagus. 2012. Buku Ajar Landasan Pendidikan. (Online) diakses, 9 Oktober
Sugianto, Akhmad. 2013. Landasan Sosiologis Pendidikan. (Online) diakses 7 Oktober
Suprihatin, Wara. 2007. Filosofi Sebagai Landasan Pendidikan. (Online) diakses 8 Oktober 2016
Suyitno. 2009. Landasan Filosofi Pendidikan: Pengertian dan Permasalahan-permasalahan Filsafat Pendidikan. (Online), diakses 8 Oktober 2016
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo, 1994. Pengantar   Pendidikan.  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
Yasin, A, F. 2011. Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru Pendidikan Agama Islam Di Madrasah (Studi Kasus Di Min Malang I. (Online), diakses 6 Oktober 2016.

PEDULI KORBAN BANJIR, DPRD KOMISI I PAMEKASAN BERSAMA TIM RELAWAN BAGIKAN RATUSAN NASI BUNGKUS.

PAMEKASAN-  Pasca Banjir yang melanda dibeberapa titik wilayah Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Abd Aziz (DPRD Komisi I...